https://prosidingcosmic.fk.uwks.ac.id/index.php/cosmic/issue/feedProsiding Seminar Nasional COSMIC Kedokteran2025-01-16T10:18:47+00:00Pratika Yuhyi Hernanda, M.Sc, PhD.yuhyi_h@yahoo.comOpen Journal Systems<p><strong>Prosiding Seminar Nasional COSMIC Kedokteran</strong> merupakan terbitan berkala setiap tahun sekali pada bulan Januari. Prosiding ini berisi kumpulan artikel hasil penelitian dan kegiatan pengabdian pada masyarakat yang telah dipresentasikan dalam Seminar Nasional COSMIC yang diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya. Prosiding ini memuat sejumlah artikel berbahasa Indonesia yang ditulis oleh para pakar, praktisi, dan mahasiswa di perguruan tinggi dalam bidang ilmu Kedokteran dan Kesehatan.</p>https://prosidingcosmic.fk.uwks.ac.id/index.php/cosmic/article/view/61VAKSINASI FOODBORNE DISEASE SEBAGAI LANGKAH PENCEGAHAN RESISTENSI ANTIBIOTIK PADA ANAK 2024-11-22T16:45:01+00:00Geoffrey Christian Logeoffrey.405220017@stu.untar.ac.idYohanes Firmansyahyohanes@fk.untar.ac.id<p><em>Prevalensi penyakit bawaan makanan atau foodborne disease tinggi terutama pada populasi dewasa dan anak. World Health Organization (WHO) mencatat 600 juta kasus foodborne disease di dunia yang menyebabkan 294.000 kematian pada dewasa dan 126.000 kematian pada balita. Angka morbiditas, mortalitas, dan beban finansial yang tinggi akibat foodborne disease pada populasi anak membuat vaksinasi perlu dilakukan untuk memberikan proteksi terhadap patogen foodborne disease, seperti Salmonella typhi, Vibrio cholerae, virus hepatitis A, dan rotavirus. Pemberian vaksin juga menekan penggunaan antibiotik yang berlebihan dan tidak sesuai pada hewan dan manusia menyebabkan timbulnya bakteri resisten antibiotik yang menyebabkan 1,27 juta kematian pada 2019. Tinjauan pustaka ini dilakukan melalui Google Scholar akan memaparkan bagaimana vaksinasi foodborne disease pada anak dapat menurunkan penggunaan antibiotik dalam rangka mengurangi dan mencegah timbulnya resistensi antibiotik pada populasi anak.</em></p> <p> </p>2025-01-16T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2024 Prosiding Seminar Nasional COSMIC Kedokteranhttps://prosidingcosmic.fk.uwks.ac.id/index.php/cosmic/article/view/69PROBIOTIK DAN DIARE PADA ANAK2024-11-27T03:27:16+00:00Anna Lewi Santosolewisantosoanna@gmail.comJemima Lewi Santosolewisantosoanna@gmail.comAyling Sanjayalewisantosoanna@gmail.com<p><em>Mikroflora pada usus berfungsi sebagai penyerapan nutrisi, sistem imun juga sebagai barrier terhadap organisme patogen seperti bakteri, virus dan jamur. Bila terjadi kerusakan yang disebabkan oleh sakit yang lama atau berulang (diare), </em><em>environmental enteric dysfunction (EED) yang etiolaginya belum diketahui dengan pasti (lebih dari 40% kasus stunting) akan menganggu keseimbangan antara pasien dan mikroflora usus, sehingga terjadi pertambahan organisme patogen yang akan menembus mukosa barrier usus, sehingga diare berulang dan dapat mengakibatkkan infeksi sistemik. Probiotik yang berasal dari organisme mikrobiota usus (tunggal atau kombinasi) untuk memperbaiki mikroflora usus juga bisa menjadi flora normal usus akan meningkatkan barrier usus. Tujuan: Artikel-artikel tentang probiotik dan diare, khususnya pada anak direview, tentang peran probiotik untuk pencegahan diare dan patogenesis diare. Metode: artikel dan jurnal di PUBMED, google scholar dikumpulkan mulai tahun 2014-2024. Hasil: probiotik dapat memperbaiki ketidakseimbangan antara mikrobiota usus dan fungsinya sebagai barrier. Probiotik telah digunakan di berbagai kasus kesakitan anak (diare), tetapi perlu dilakukan penelitian lebh lanjut dengan multisenter kapan dan dosis secara rutin untuk anak-Kesimpulan: probiotik dapat mencegah, meningkatkan kemampuan antipatogen, memperpendek durasi diare dan mengurangi reinfeksi diare. </em></p>2025-01-16T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional COSMIC Kedokteranhttps://prosidingcosmic.fk.uwks.ac.id/index.php/cosmic/article/view/72LITERATURE REVIEW: PERAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE BERDASARKAN CHATBOT DALAM MENINGKATKAN PROMOSI KESEHATAN 2024-11-27T12:51:48+00:00Kendra Callista Satyafebrianti24091010031@student.upnjatim.ac.idAlya Shofiyah Zahiraalyashofiyah7@gmail.comPutri Noviana Agustina16putrinov1ana@gmail.comRafi Auliya Arbanirafiaulia35@gmail.comMuhammad Salsabeela Rusdim.salsabeela.rusdi.fk@upnjatim.ac.id<p><em>Latar belakang: Chatbot Artificial Intelligence merupakan suatu program teknologi yang memudahkan masyarakat untuk berinteraksi secara daring. Chatbot di dunia kesehatan diyakini dapat membantu instansi kesehatan dalam mempromosikan kesehatan melalui platform media sosial. Dengan hanya mengetik kata kunci, masyarakat dapat dengan mudah mendapatkan informasi kesehatan tanpa perlu berinteraksi langsung dengan tenaga kesehatan. Tujuan: Menganalisis peran Chatbot dalam dunia kedokteran, termasuk bentuk penerapannya dan efektivitas integrasinya dalam mendukung promosi Kesehatan. Metode: Penelitian ini menggunakan metode literature review dengan mengumpulkan data dari basis data seperti Scopus, PubMed, dan Google Scholar. Artikel yang digunakan ditulis dalam Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia serta disaring berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi, sehingga didapatkan 7 jurnal untuk di-review. Kata kunci yang digunakan dalam pencarian artikel meliputi: “Artificial Intelligence Chatbot”,“Chatbot in Medicine”, dan “Artificial Intelligence in Health Promotion”. Pencarian artikel dibatasi pada publikasi dalam 5 tahun terakhir. Hasil: Berdasarkan 7 penelitian, didapatkan Chatbot dalam dunia kesehatan dapat memudahkan instansi kesehatan untuk mempromosikan kesehatan dengan cara masyarakat hanya perlu mengetik kata kunci singkat melalui platform daring sehingga dapat dengan mudah didapatkan informasi kesehatan. Kesimpulan: Penggunaan AI, khususnya Chatbot dalam dunia kesehatan memiliki dampak yang cukup signifikan dan berpotensi mendominasi dalam penerapannya, sehingga promosi kesehatan dapat disebarkan ke seluruh golongan masyarakat.</em></p>2025-01-16T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional COSMIC Kedokteranhttps://prosidingcosmic.fk.uwks.ac.id/index.php/cosmic/article/view/74HUBUNGAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL PASIEN DAN DOKTER MELALUI KECERDASAN BUATAN (ARTIFICIAL INTELLIGENCE) : Sebuah Tinjauan Literatur2024-11-27T13:34:22+00:00Putri Noviana Agustina16putrinov1ana@gmail.comAlya Shofiyah Zahiraalyashofiyah7@gmail.comKendra Callista Satyafebrianti24091010031@student.upnjatim.ac.idRafi Auliya Arbanirafiaulia35@gmail.comLeonardo Tedjaprasadjaleonardo.tedjaprasadja.fk@upnjatim.ac.id<p><em>Latar belakang: Komunikasi menjadi aspek yang penting untuk membantu dokter menggali informasi dari pasien. Artificial Intelligence merupakan kecerdasan buatan dalam mendukung media komunikasi di dunia digital untuk membantu menggali informasi yang di butuhkan dalam proses komunikasi. Komunikasi antara dokter dan pasien melalui AI membuka peluang baru untuk perawatan kesehatan yang lebih efektif dengan memfasilitasi konsultasi yang efisien untuk masalah kesehatannya. Penggunaan AI dalam komunikasi dokter dengan pasien menjadi terstruktur dan responsif. Tujuan: Kajian literatur ini menganalisis hubungan komunikasi interpersonal pasien dan dokter dengan meningkatkan interaksi dan umpan balik yang efisien dan akurat dalam pelayanan kesehatan menggunakan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). Metode: Metode yang digunakan adalah pencarian sumber literatur yang berfokus pada artikel terkait dengan komunikasi dokter dengan pasien melalui kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). Diperoleh hasil sebanyak 8 jurnal dengan 2 jurnal berbahasa Indonesia dan 6 jurnal berbahasa Inggris dengan rentang waktu 5 tahun terakhir dari tahun 2019-2024. Hasil: Berdasarkan 8 penelitian yang ditelaah diperoleh hasil bahwa komunikasi interpersonal pasien dan dokter melalui kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) dapat membantu keefektifan dalam pelayanan yang dibutuhkan pasien. Selain itu AI juga dapat membantu hasil dan terapi yang didapatkan pasien dapat mencapai keakurasian yang signifikan sehingga mampu di terapkan dalam dunia kesehatan. Kesimpulan: Penerapan AI dalam komunikasi dokter dan pasien memiliki potensi besar untuk meningkatkan kualitas interaksi dan kepuasan pasien.</em></p>2025-01-16T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional COSMIC Kedokteranhttps://prosidingcosmic.fk.uwks.ac.id/index.php/cosmic/article/view/73PERAN DOKTER DALAM MENINGKATKAN LITERASI KESEHATAN MASARAKAT MELALUI ARTIFICIAL INTELLIGENCE2024-11-27T12:46:59+00:00Rafi Auliyarafiaulia35@gmail.comAlya Shofiyah Zahiraalyashofiyah7@gmail.comKendra Callista Satyafebrianti24091010031@student.upnjatim.ac.idPutri Noviana Agustina16putrinov1ana@gmail.comFara Disa Durryfaradisa.fk@upnjatim.ac.id<p><em>Latar belakang:</em><em> Dalam beberapa tahun terakhir, teknologi Artificial Intelligence telah menunjukkan potensi besar dalam bidang kesehatan, mulai dari diagnosis penyakit hingga personalisasi pengobatan. Penggunaan AI dalam literasi kesehatan dapat mencakup berbagai aspek, seperti pembuatan konten edukasi kesehatan yang dipersonalisasi, analisis tren kesehatan populasi untuk mengidentifikasi kebutuhan edukasi, serta penggunaan chatbot dan aplikasi mobile untuk memberikan informasi kesehatan. Dokter dengan dukungan Artificial Intelligence, dapat menjadi agen perubahan dalam masyarakat untuk membantu meningkatkan literasi kesehatan. </em><em>Tujuan: Kajian literatur ini untuk menelusuri peran kecerdasan buatan dalam dunia kedokteran serta manfaatnya bagi Tenaga Kesehatan terkait edukasi Kesehatan pada masyarakat. Metode: Metode yang digunakan adalah literature review yang berfokus pada jurnal terkait dengan penggunaan Artificial Intelligence dalam dunia Kesehatan khususnya dalam Kesehatan Masyarakat sehingga diperoleh hasil sebanyak 5 jurnal dengan 2 jurnal berbahasa Indonesia dan 3 jurnal berbahasa Inggris. Hasil: Berdasarkan 5 penelitian yang ditelaah diperoleh hasil bahwa Kecerdasan Buatan mempunyai manfaat yang besar dalam membantu tenaga Kesehatan. Dokter yang menggunakan chatbot dapat secara efektif menyediakan informasi yang lebih relevan dan mudah dipahami oleh masyarakat, sehingga meningkatkan literasi Kesehatan.</em> <em>Kesimpulan: Kajian literatur ini menunjukan bahwa pemanfaatan Artificial Intelligence oleh dokter memiliki potensi besar untuk meningkatkan literasi kesehatan masyarakat dan mendorong perilaku kesehatan yang baik.</em></p>2025-01-16T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional COSMIC Kedokteranhttps://prosidingcosmic.fk.uwks.ac.id/index.php/cosmic/article/view/75PERAN AI DALAM PEMAHAMAN DAN OPTIMALISASI KESEHATAN MENTAL PADA MASYARAKAT2024-11-27T13:58:45+00:00Alya Shofiyah Zahiraalyashofiyah7@gmail.comPutri Noviana Agustina16putrinov1ana@gmail.comKendra Callista Satyafebrianti24091010031@student.upnjatim.ac.idRafi Auliya Arbanirafiaulia35@gmail.comHilmia Fahmahilmiafahma.fk@upnjatim.ac.id<p><em>Latar belakang: kesehatan mental menjadi isu global yang signifikan, terutama di era digital yang penuh kompleksitas sosial. Jumlah kasus gangguan mental meningkat secara global, dan Indonesia mencatat lebih dari 10.000 kasus bunuh diri. Pemberian perawatan yang efektif penting untuk mengatasi masalah ini. Artificial Intelligence (AI) muncul sebagai solusi inovatif yang menawarkan kemampuan menganalisis data besar dan memberikan intervensi personal dalam mendukung kesehatan mental. Tujuan: kajian literarur ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran AI dalam meningkatkan pemahaman dan optimalisasi kesehatan mental, serta mengidentifikasi manfaat dan tantangan penerapannya. Metode: penelitian ini menggunakan pencarian literatur dari database seperti Google Scholar, ScienceDirect, dan PubMed. Didapatkan 7 artikel Bahasa Inggris dan 1 artikel Bahasa Indonesia. Hasil: penelitian ini menunjukkan bahwa AI mendukung kesehatan mental salah satunya melalui aplikasi seperti Therapily, yang membantu individu mengelola kondisi mental dengan lebih baik. Namun, isu terkait privasi data dan bias model masih menjadi tantangan yang perlu diatasi. Kesimpulan: AI memiliki potensi besar meningkatkan kesejahteraan individu melalui deteksi dini, perencanaan terapi personal, dan intervensi yang efektif. Dengan regulasi yang jelas dan pengembangan model AI yang inklusif, teknologi ini dapat menjadi alat penting dalam meningkatkan aksesibilitas dan kualitas layanan kesehatan mental secara efektif.</em></p>2025-01-16T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2024 Prosiding Seminar Nasional COSMIC Kedokteranhttps://prosidingcosmic.fk.uwks.ac.id/index.php/cosmic/article/view/78ANALISIS FAKTOR RISIKO ANEMIA PADA KEHAMILAN PENYEBAB STUNTING PADA ANAK2024-11-27T16:41:31+00:00Karisa Betha Nandakarisabetha@gmail.comSusan Jocelyn Anggonosusananggono@gmail.comVanessa Susanto Tjokrovanessa8103@gmail.comDiah Arrizah Putridiaharrizahputri@gmail.comAnna Lewi Santosolewiannasantoso@gmail.com<p><em>Latar Belakang: Anemia adalah kondisi konsentrasi hemoglobin (Hb) dalam darah yang lebih rendah dari kadar normal. Anemia pada kehamilan dapat meningkatkan angka terjadinya stunting pada anak. Hal ini dapat terjadi karena ketidakcukupan pemenuhan energi bagi ibu dan janinnya sehingga dapat menyebabkan stunting di kemudian hari. Kejadian anemia pada ibu hamil di Indonesia mencapai angka 48,9%. Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak yang ditandai dengan tinggi badan kurang dari standar usianya, yang menjadi suatu indikator gizi buruk kronis. Kejadian stunting di Indonesia mencapai angka 21,6%. Tujuan: Menganalisis faktor risiko anemia pada kehamilan penyebab stunting pada anak. Metode: Pencarian jurnal melalui Google Scholar dan </em><em>Researchgate</em><em>. Hasil Penelitian: Anemia pada kehamilan dapat menyebabkan stunting pada anak. Kesimpulan: terdapat hubungan antara anemia ibu hamil terhadap kejadian stunting pada anak.</em></p>2025-01-16T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional COSMIC Kedokteranhttps://prosidingcosmic.fk.uwks.ac.id/index.php/cosmic/article/view/79A literature review PERAN MTORC1 DAN HORMON IGF-1: RISIKO OBESITAS PADA DEWASA DARI STUNTING 2024-11-27T16:55:35+00:00Susan Anggonosusananggono@gmail.comVanessa Susanto TjokroVanessast8103@gmail.comDiah Arrizah Putridiaharrizahputri2.7@gmail.comKarisa Betha Nandakarisabetha@gmail.comAnna Lewi Santosolewisantosoanna@gmail.com<p><em>Latar belakang: Stunting didefinisikan sebagai kekurangan gizi dalam kurun waktu 1000 hari pertama kehidupan akibat ketidaksesuaian pemberian makanan dengan pemenuhan kebutuhan gizi. </em><em>Anak dengan stunting memiliki aktivitas mTORC1 yang menurun dibandingkan dengan anak seusianya. Penurunan ini akan menurunkan aktivitas IGF-1 sehingga proses oksidasi lemak menurun dan menyebabkan penumpukan lemak sehingga terjadi obesitas. Obesitas merupakan penyakit kronis dengan deposit lemak berlebihan pada tubuh yang menyebabkan permasalahan kesehatan. Pada tahun 2018, sekitar 7,6 juta anak usia sekolah dan 3,3 juta remaja di Indonesia hidup dengan kelebihan berat badan atau obesitas. Tujuan: Menganalisis peran mTORC1 dan IGF-1 pada anak stunting terhadap kejadian obesitas pada dewasa. Metode: Pencarian jurnal melalui PubMed, Google Scholar, serta situs resmi lainnya (WHO, CDC, Kemenkes RI,dll) Hasil Penelitian: Stunting meningkatkan risiko terjadinya obesitas/overweight pada anak-anak. Kesimpulan: Stunting dapat meningkatkan risiko terjadinya obesitas pada saat dewasa.</em></p>2025-01-16T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional COSMIC Kedokteranhttps://prosidingcosmic.fk.uwks.ac.id/index.php/cosmic/article/view/81STUDI LITERATUR: HUBUNGAN ANTARA PEROKOK PASIF DENGAN KEJADIAN KANKER PAYUDARA PADA WANITA2024-11-28T09:39:39+00:00Umbu Reku Djawa Tana Hilungaratitiek@uwks.ac.idTitiek Sunaryatititiek@uwks.ac.idIra Idawatititiek@uwks.ac.id<p><em>Kanker payudara merupakan keganasan paling umum terjadi di seluruh dunia dan salah satu penyebab utama kematian pada Wanita setelah kanker pernafasan. Salah satu faktor yang menyebakan kanker payudara ialah asap rokok. Penelitian ini memiliki tujuan umuntuk mengetahui adanya hubungan antara perokok pasif dengan kejadian kanker payudara pada wanita. Penelitian ini menggunakan metode literature review yang bersifat deskriptif dengan pengumpulan data/informasi, analisis dan pemecahan masalah. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kultur sel yang diekspose dengan asap rokok akan meningkatkan level NF-kB aktif dan memacu ekspresi protein cyclin D, protein yang sangat diperlukan untuk awal pembelahan sel. Dengan sifat yang demikian ini maka senyawa PAH juga akan dapat memicu perkembangan tumor lebih cepat lagi. Kesimpulannya ialah adanya hubungan antara perokok pasif dengan kejadian kanker payudara pada wanita.</em></p>2025-01-16T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2024 Prosiding Seminar Nasional COSMIC Kedokteranhttps://prosidingcosmic.fk.uwks.ac.id/index.php/cosmic/article/view/49HUBUNGAN STATUS GIZI DENGAN DERAJAT HIPERTENSI PADA PROGRAM PROLANIS BULAN SEPTEMBER 2024 DI PUSKESMAS JATIREJO2024-11-05T06:10:40+00:00Kiswati Rozi Permatasarisukma.sahadewa@uwks.ac.idSalsabila Rahmasukma.sahadewa@uwks.ac.idBayu Prakososukma.sahadewa@uwks.ac.idIlham Nofasukma.sahadewa@uwks.ac.idSukma Sahadewasukma.sahadewa@uwks.ac.id<p>Latar Belakang: Penyakit tidak menular (PTM) seperti hipertensi, merupakan penyebab kematian yang signifikan di seluruh dunia, terutama pada kelompok usia dewasa. Di Indonesia, prevalensi hipertensi berdasarkan pengukuran usia ≥18 tahun adalah 30,8%, dengan Jawa Timur memiliki prevalensi 36,32%, dan Kabupaten Mojokerto mencatat angka prevalensi 18,34%. Data dari Puskesmas Jatirejo menunjukkan bahwa hipertensi, terutama Essential Primary Hypertension, merupakan masalah kesehatan yang signifikan di wilayah tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan status gizi dengan derajat hipertensi pada program prolanis di Puskesmas Jatirejo. Metode yang digunakan adalah studi cross-sectional dilakukan pada 25 pasien dengan pengumpulan data melalui pengukuran antropometri dan tekanan darah. Hasil: Dari 25 responden didapatkan 16 responden (64%) mengalami obesitas dan 10 responden (40%) mengalami hipertensi. Responden yang dari responden yang menderita hipertensi dengan status gizi obesitas sebesar 9 responden (36%). Pengujian dengan Fisher’s Exact Test, terdapat hubungan yang signifikan antara status gizi obesitas dan derajat hipertensi (p 0,034). Kesimpulan: Perawatan dan pengelolaan obesitas dapat memainkan peran yang krusial dalam pencegahan dan pengelolaan hipertensi pada program prolanis di Puskesmas Jatirejo. Dibutuhkan lebih banyak penelitian untuk membantu menyusun strategi intervensi yangefektif untuk mengatasi masalah ini secara lebih luas di masyarakat.</p>2025-01-16T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional COSMIC Kedokteranhttps://prosidingcosmic.fk.uwks.ac.id/index.php/cosmic/article/view/50HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN DENGAN KADAR HbA1c PADA PASIEN PROLANIS DIABETES MELLITUS TIPE 2 DI PUSKESMAS DEKET LAMONGAN2024-11-05T12:43:52+00:00Febrin Trianita Anggraenifebrintrianita22@gmail.comRoethmia Yaniariroethmia.a@gmail.comSuhartatiSuhartatisuhartati17@gmail.com<p><em>Di Jawa Timur, tepatnya pada Kabupaten Lamongan memiliki kasus diabetes mellitus (DM) tertinggi, dengan 23.226 penderita. Penting bagi masyarakat untuk memahami diabetes agar dapat berperan dalam menurunkan angka kasus. Pengetahuan dan tingkat pendidikan seseorang berpengaruh terhadap pemahaman Kesehatan. Masih banyak penderita DM yang belum menyadari pentingnya memonitor kadar HbA1c. Pemantauan kadar HbA1c ini dilakukan setiap 2-3 bulan untuk membantu dalam mengontrol gula darah, mencegah komplikasi, dan mengevaluasi terapi. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan 47 pasien PROLANIS di Puskesmas Deket Lamongan. Semua pasien terdaftar dijadikan sampel, dan analisis data dilakukan menggunakan uji statistik Spearman untuk mencari hubungan antar variabel. Hasil penelitian menunjukkan nilai p sebesar 0,000 (p ≤ 0,05), yang menunjukkan terdapat hubungan bermakna antara tingkat pendidikan dan kadar HbA1c. koefisien korelasi -0,663 mengindikasikan semakin rendah tingkat Pendidikan, maka semakin tinggi kadar HbA1c. Jadi, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara tingkat pendidikan dan kadar HbA1c pada penderita DM tipe 2 di Puskesmas Deket Lamongan.</em></p>2025-01-16T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional COSMIC Kedokteranhttps://prosidingcosmic.fk.uwks.ac.id/index.php/cosmic/article/view/51PREVALENSI DAN FAKTOR-FAKTOR RISIKO INFEKSI SALURAN KEMIH PADA IBU HAMIL DI PUSKESMAS DUKUH KUPANG SURABAYA 2024-11-13T10:15:02+00:00Kresna Aditya RukmanaKresnaadityar16@gmail.comInawatiinawatinugraha@yahoo.comHarman Agusaputrafkuwkharman@gmail.comBudhi Setiawanbudhisetiawan@uwks.ac.id<p><em>Infeksi Saluran Kemih (ISK) merupakan salah satu risiko kehamilan berupa kondisi klinis infeksi yang disebabkan oleh bakteri yang apabila tidak dilakukan tatalaksana dengan baik akan memperburuk kondisi kehamilan yang membahayakan ibu dan janin. ISK memiliki multifaktor risiko yang mendasari perjalanan dan keparahan penyakit yang diantaranya meliputi usia, sosioekonomi, tingkat pendidikan, paritas, gravida, frekuensi hubungan seksual, riwayat ISK, volume minum air putih, dan kebersihan vulva. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan prevalensi ISK berdasarkan faktor-faktor risikonya pada ibu hamil di Poli KIA Puskesmas Dukuh Kupang Surabaya Periode Maret-Mei 2024. Penelitian ini dirancang menggunakan pendekatan deskriptif dengan desain penelitian cross-sectional pada total sampel dari ibu hamil selama 3 bulan penelitian. Populasi ditemukan sebanyak 40 orang dan besar sampel adalah 40 orang. Analisis data menggunakan metode crosstab analysis diperoleh hasil sebagai kesimpulan prevalensi ISK pada ibu hamil sebesar 12,5% yang seluruhnya berusia 20-35 tahun, berpendidikan SMA, berpenghasilan di bawah gaji UMR kota Surabaya, sebagian besar usia kehamilan di trimester ketiga, sebagian besar belum pernah melahirkan, sebagian besar dengan intensitas kontak seksual </em><em>1x/minggu, sebagian besar memiliki riwayat multigravida, sebagian yang lain memilikir riwayat primipara, seluruhnya tidak memiliki riwayat ISK, sebagian besar konsumsi volume minum air ≥8 gelas per hari, dan seluruhnya merawat kebersihan vulva yang baik. Kesimpulan penelitian menyatakan bahwa prevalensi ISK beberapa menjadi faktor risiko yaitu usia muda, usia kehamilan, sosioekonomi, frekuensi hubungan seksual, multigravida, dan multipara. Selain itu, tidak didasari oleh faktor risiko yang diteliti dan diduga disebabkan oleh faktor-faktor lain yang perlu diteliti lebih lanjut diantaranya perilaku kesehatan seksual, immunocompromised, tingkat stres, dan komorbid. </em></p>2025-01-16T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2024 Prosiding Seminar Nasional COSMIC Kedokteranhttps://prosidingcosmic.fk.uwks.ac.id/index.php/cosmic/article/view/52INDIKATOR PEMENDEKAN USUS MENCIT KOLITIS ULSERATIF YANG DIPULIHKAN DENGAN PEMBERIAN SCFA DAN MINYAK BIJI LABU 2024-11-14T03:47:44+00:00Gietri Indah Lestarigiestri.indahl@gmail.comPutu Oky Ari Taniaputuoky@uwks.ac.idDorta Simamoradortasimamora@uwks.ac.idJimmy Hadi Widjajaputuoky@uwks.ac.id<p><em>Salah satu penyakit inflamasi di usus adalah kolitis ulseratif, yang ditandai dengan beberapa gejala termasuk turunnya berat badan, adanya darah pada feces, demam, serta kontraksi pada panjang usus, yang dapat berpotensi menjadi kanker kolorektal. Penelitian ini bertujuan untuk mengobservasi efikasi dari suplementasi minyak biji labu dan Short Chain Fatty Acids (SCFA) pada pemulihan pemendekan usus mencit model kolitis ulseratif. Metode penelitian adalah eksperimental laboratorium dengan desain simple random sampling. Empat kelompok mencit yaitu K1 kontrol (aquades), K2 kolitis usleratif (DSS 2% dilanjutkan aquades), K3 (DSS 2% dilanjutkan dengan SCFA), K4 (DSS 2% dilanjutkan dengan SCFA dan minyak biji labu). Hasil Penelitian ini adalah rerata panjang usus pada K1, K2, K3 dan K4 masing-masing adalah 10,73; 9,6; 9,92; dan 10,32. Perbedaan perlakuan tersebut terhadap panjang kolon menunjukkan tidak ada perbedaan di antara kelompok dengan uji ANOVA (p value 0,391). Pemberian SCFA dan minyak biji lbu dapat memperbaiki ukuran panjang kolon sebagai indikator pemulihan inflamasi.</em></p>2025-01-16T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2024 Prosiding Seminar Nasional COSMIC Kedokteranhttps://prosidingcosmic.fk.uwks.ac.id/index.php/cosmic/article/view/56PERAN KECERDASAN BUATAN DALAM KESEHATAN MASYARAKAT GLOBAL2024-11-17T04:18:26+00:00Mohammad Yusuf Alamudimyusufalamudi@gmail.comHenry Sudiyantomyusufalamudi@gmail.comNurwidji Nurwidjimyusufalamudi@gmail.comSulis Dianamyusufalamudi@gmail.comDhonna Anggrenimyusufalamudi@gmail.comElyana Maftichamyusufalamudi@gmail.comEka Diah Kartiningrummyusufalamudi@gmail.comArief Fardiansyahmyusufalamudi@gmail.com<p><em>Latar Belakang: Kata “kesehatan masyarakat” merupakan salah satu kata yang paling sering digunakan oleh para pembuat kebijakan, perencana, penyedia layanan kesehatan, dan akademisi. Kata ini merupakan salah satu alat terpenting untuk menjaga kesehatan bangsa serta untuk pembangunan secara keseluruhan. Kesehatan masyarakat bekerja untuk memantau wabah penyakit, baik akut maupun kronis, untuk mencegah cedera, dan untuk memahami distribusi faktor risiko di masyarakat. Kecerdasan buatan (AI) berpotensi meningkatkan kemampuan kesehatan masyarakat untuk meningkatkan kesehatan semua orang di semua komunitas. Tujuan: menentukan Peran Kecerdasan Buatan dalam Kesehatan Masyarakat Global. Metode: Metodologi yang digunakan melibatkan tinjauan pustaka atau analisis makalah yang dikumpulkan dari tahun 1980 hingga 2024 melalui mesin pencari Google. Selanjutnya, sumber dikumpulkan, diidentifikasi, dan dievaluasi. Laporan penelitian ini menggunakan frasa kesehatan masyarakat dan AI. Perburuan tersebut terjadi pada tahun 2024 dari bulan Juli hingga November. Artikel-artikel dalam koleksi ini diterbitkan dalam bahasa Inggris dan Indonesia di jurnal nasional dan internasional, analisis dengan Vosviewer. Hasil : Berdasarkan analisis menggunakan Vosviewer, ditemukan bahwa kesehatan masyarakat terkait dengan AI meliputi big data, data mining, machine learning, deep learning, algoritma, global health informatics. Penelitian kesehatan masyarakat dan AI dilakukan antara tahun 2018 hingga 2024 dan masih terbuka untuk dikaji.</em> <em>Kesimpulan: AI memiliki peran penting dalam kesehatan masyarakat, terutama dalam kaitannya dengan big data, kebijakan kesehatan, dan perawatan kesehatan.</em></p>2025-01-16T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional COSMIC Kedokteranhttps://prosidingcosmic.fk.uwks.ac.id/index.php/cosmic/article/view/58EFEKTIVITAS EKSTRAK ETANOL DAUN CENGKEH (Syzygium aromaticum) DALAM MENGHAMBAT PEMBENTUKAN BIOFILM Candida albicans ATCC 140532024-11-19T04:38:23+00:00Firdausi Nuzulamasfufatun@uwks.ac.idmasfufatun masfufatunmasfufatun@uwks.ac.id<p><em>Candida albicans merupakan salah satu jenis Candida yang banyak ditemukan di lingkungan dan termasuk mikrobiota normal. Candida albicans bisa menjadi patogen ketika keseimbangannya terganggu, sehingga akan menyebabkan infeksi. Infeksi jamur yang disebabkan oleh Candida disebut sebagai kandidiasis. Antijamur yang banyak digunakan saat ini yaitu azole, polien, echinocadin, allylamine, dan fluoropyrimidine. Resistensi antijamur terhadap biofilm diperkirakan 10.000 kali lipat dibanding dalam wujud planktonik. Hampir seluruh bagian cengkeh dapat dimanfaatkan mulai dari daun, bunga, dan rantingnya. Daun cengkeh (Syzygium aromatium) dapat digunakan untuk mengobati penyakit infeksi salah satunya kandidiasis. Pada uji fitokimia ekstrak daun cengkeh terdapat kandungan flavonoid, tanin, saponin, terpenoid, dan alkaloid. Desain penelitian yang digunakan adalah eksperimental murni dengan pendekatan post test control group only desain. Uji aktivitas antibiofilm ekstrak etanol daun cengkeh menggunakan metode microtiter plate biofilm assay. Hasil uji aktivitas antibiofilm menunjukkan bahwa konsentrasi ekstrak etanol daun cengkeh (S. aromaticum) yang memiliki aktivitas menghambat pertumbuhan biofilm C. albicans dengan persentase aktivitas tertinggi terdapat pada konsentrasi 20%. Penentuan nilai MBIC<sub>50</sub> dilakukan dengan menggunakan analisis probit, sehingga diperoleh konsentrasi ekstrak etanol daun cengkeh (S. aromatium) yang dapat menghambat 50% pertumbuhan biofilm C. albicans terletak pada konsentrasi 0,22%.</em></p>2025-01-16T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2024 Prosiding Seminar Nasional COSMIC Kedokteranhttps://prosidingcosmic.fk.uwks.ac.id/index.php/cosmic/article/view/64HUBUNGAN STRES AKADEMIK DENGAN GANGGUAN MAKAN (EATING DISORDER) PADA MAHASISWA FK UWKS ANGKATAN 2021 MENJELANG UJIAN SOOCA2024-11-24T15:03:59+00:00Dani Setiawandani.setiawan1828@gmail.comDorta Simamoradortasimamora@uwks.ac.id<p><em>La</em><em>tar belakang: Stres ialah kondisi atau keadaan didalam tubuh yang dapat timbul akibat tekanan fisik, situasi sosial, dan lingkungan yang tidak terkendali. Stres akademik tahap universitas, seperti hilangnya kebiasaan sehat di kalangan mahasiswa dibandingkan dengan tahap sebelumnya saat masih bersama dengan keluarga. selama masa ujian (situasi yang penuh tekanan), mahasiswa memodifikasi kebiasaan makan dan latihan fisik mereka, Mahasiswa dengan gangguan makan disini dikenal sebagai eating disorder (ED). Eating disorder adalah sebuah kondisi terkait dengan kesehatan mental yang ditunjukkan melalui ketidaknormalan dalam perilaku makan. Beberapa jenis dari ED meliputi anoreksia nervosa, bulimia nervosa, dan binge eating disorder. Metode: </em><em>Pada penelitian ini meggunakan metode Cross sectional dengan analisis observasional. Jumlah sampel yang memenuhi kriteria adalah 68 orang, selanjutnya data diolah dengan SPSS. Kesimpulan: Bedasarkan hasil penelitian ini, diperoleh nilai t hitung 0,753 > 0,235 dan Sig. (2 tailed) = 0,000 < 0,05. Bedasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara stres akademik dengan ED pada Mahasiswa FK UWKS Angkatan 2021.</em></p>2025-01-16T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional COSMIC Kedokteranhttps://prosidingcosmic.fk.uwks.ac.id/index.php/cosmic/article/view/65PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK PEPEROMIA PELLUCIDA TERHADAP KADAR UREUM DAN KREATININ TIKUS WISTAR YANG MENDAPATKAN PAJANAN ASAP ROKOK 2024-11-25T06:36:28+00:00Angela Octaviaanggelaoctavia29@gmail.comIndah Widyaningsih indatamun@uwks.ac.idAkmarawita Kadirakmarawita@gmail.com<p><em>Paparan asap rokok merupakan salah satu faktor utama yang mengakibatkan kerusakan fungsi ginjal. Hal ini dapat memanfaatkan obat herbal secara tradisional dari tumbuhan seperti ektrak Peperomia pellucida . Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak Peperomian Pellucida terhadap kadar ureum dan kreatinin tikus wistar yang mendapatkan pajanan asap rokok. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan desain randomized post-test only control group. Dalam eksperimental terdapat 28 tikus wistar dibagi menjadi empat kelompok uji, yaitu K0, K1, P1, dan P2. Kelompok K0 adalah kelompok control, kelompok K1 adalah kelompok yang mendapatkan ekstrak Peperomia pellucida dengan dosis 400mg, P1 adalah kelompok hanya mendapatkan pajanan asap rokok, kelompok P2 adalah kelompok yang mendapatkan ekstrak Peperomia pellucida dan pajanan asap rokok. Variabel bebas adalah ekstrak Peperomia pellucida dan pajanan asap rokok, sedangkan, variabel terikat adalah ureum dan kreatinin. Data analisis yang digunakan multivariate analysis of variance (MANOVA) untuk melihat perbedaan tiap kelompok. P-value < 0.05 dianggap signifikan menggunakan SPSS versi 27. Hasil penelitian dari gagasan menunjukkan adanya peningkatan fungsi ginjal pada kelompok yang terpapar asap rokok. </em></p>2025-01-16T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional COSMIC Kedokteranhttps://prosidingcosmic.fk.uwks.ac.id/index.php/cosmic/article/view/70GAMBARAN INSIDENSI RAMPAN KARIES DENGAN KEJADIAN MALOKLUSI PADA ANAK USIA 4-8 TAHUN DI SURABAYA2024-11-27T09:37:27+00:00Wahyuni Dyah Parmasariwd.parmasari@uwks.ac.idPutu Agung Narendra Indria Dewinarendradewi01@gmail.com<p><em>Latar bela</em><em>k</em><em>ang: Menurut data RISKESDAS tahun 2018 prevalensi karies gigi penduduk Indonesia sebesar 88,8%. Khususnya pada anak prasekolah usia 4-5 tahun, angka kejadian karies gigi dilaporkan mencapai 90,5% diperkotaan dan 95,9% di pedesaan. Etiologi maloklusi salah satunya dikarenakan oleh faktor rampan karies. Karies mengakibatkan prematur loss dan akhirnya mengakibatkan disharmoni lengkung rahang. Tujuan: Penelitian ini untuk melihat gambaran insidensi rampan karies dengan kejadian maloklusi pada anak 4-8 tahun di Surabaya. Metode: Penelitian dilakukan secara deskriptif di TK Islam Darut Taqwa Surabaya dengan 45 anak sebagai responden, dengan kriteria eksklusi anak tidak ada kebiasaan buruk dan riwayat alergi. Hasil: Pada penelitian ini didapatkan 33 anak dengan insidensi rampan karies dengan besaran 73,3%. Dari insidensi rampan karies 33 anak tadi yang menderita maloklusi sebanyak 18 anak yaitu 54,5%. Maloklusi yang terjadi yaitu deepbite 12 anak (66,7%), crossbite 1 anak (0,5%), edge to edge 3 anak (16,8%) dan protrusi 2 anak (16%). Kesimpulan: Dalam penelitian ini, didapatkan adanya gambaran insidensi rampan karies dengan kejadian maloklusi pada anak usia 4-8 tahun di Surabaya.</em></p>2025-01-16T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2024 Prosiding Seminar Nasional COSMIC Kedokteranhttps://prosidingcosmic.fk.uwks.ac.id/index.php/cosmic/article/view/77ANALISIS MIKRO-CT SEBAGAI METODE PILIHAN TERHADAP PENELITIAN PERTUMBUHAN TULANG KRANIOFASIAL2024-11-27T14:56:35+00:00Wahyuni Dyah Parmasariwd.parmasari@uwks.ac.idI Gusti Wahju Ardaniwd.parmasari@uwks.ac.idIda Bagus Narmadawd.parmasari@uwks.ac.idKuntaman Kuntamanwd.parmasari@uwks.ac.idFourier Dzar Eljabbar Latiefwd.parmasari@uwks.ac.idFahrisah Nurfadeliah Bahrainiwd.parmasari@uwks.ac.idNafansya Regita Cahyaninafansyaregita27@gmail.com<p><em>Latar Belakang: Micro-CT adalah metode pencitraan 3D yang masih jarang ditemui di Indonesia. Analisis ini bermanfaat untuk penelitian untuk mengetahui titik anatomis yang sulit ditentukan secara manual, anomali dan malformasi dari cranium serta dapat mengetahui kepadatan tulang kraniofasial. Dalam pertumbuhan tulang dapat dideteksi secara kuantitatif yaitu pengukuran antropometri, maupun kualitiatif yaitu kualitas pertumbuhan tulang. Tujuan: mengukur dimensi transfersal dan sagital dengan analisis Mikro-CT sebagai parameter pertumbuhan tulang kraniofasial. Metode: Sampel menggunakan calvaria tikus betina dewasa dengan menganalisis daerah dasar calvaria yaitu basisphenoid dan concha nasalis</em>. <em>Analisis sampel dilakukan dan diukur dengan Aplikasi DataViewer versi 1.6.0.0 64-bit. CTVox versi-3.3.1 64-bit digunakan untuk menampilkan visual 3D. Mesin mikro-CT yang digunakan adalah Bruker SkyScan-1173 High Energy Micro-CT. </em><em>Hasil: Menentukan titik landmark terlateral dari calvaria, kemudian dihubungkan menjadi garis ukur, untuk mendapatkan jarak yang dapat diukur sebelum dan sesudah perlakuan. Didapatkan MXHR yaitu 9.366 mm dan Interinsisifus (I) dengan titik paling atas cranium yaitu 17.914 mm. Pada concha nasalis, ditentukan titik paling superfisial dan caudal kemudian diukur untuk mengetahui tinggi concha nasalis dalam kurun waktu tertentu. Kesimpulan: Mikro-CT dapat menjadi metode pilihan untuk pengukuran tulang kraniofasial dari aspek anterior-posterior maupun sagital dan dapat menyelidiki kualitas dari tulang dengan satuan grey-scale value.</em></p>2025-01-16T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional COSMIC Kedokteranhttps://prosidingcosmic.fk.uwks.ac.id/index.php/cosmic/article/view/80PREVALENSI OSTEOPOROSIS PADA KEGIATAN PEMERIKSAAN KEPADATAN MASSA TULANG DI KELURAHAN PEJAGAN DAN PANGERANAN (KECAMATAN BANGKALAN)2024-11-28T12:12:34+00:00Budhi Setiawannehesa@gmail.comPratika Yuhyi Hernandayuhyi_h@yahoo.comSri Lestari Utamisri.lestari@uwks.ac.id<p><em>Osteoporosis merupakan masalah kesehatan yang penting, terutama pada wanita Indonesia, karena menyebabkan tulang menjadi keropos, rapuh, dan mudah patah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi osteoporosis yang berhubungan dengan usia dan jenis kelamin pada penduduk lanjut usia di Kelurahan Pejagan dan Pangeranan, Kecamatan Bangkalan, Kabupaten Bangkalan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan dengan metode penyuluhan mengenai osteoporosis, faktor risiko, pencegahan, dan pengobatannya, serta pemeriksaan massa tulang menggunakan Quantitative Ultrasound OsteoSys (SONOST 3000). Sebanyak 89 responden dari kedua kelurahan tersebut berpartisipasi dalam kegiatan ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi osteoporosis di Kelurahan Pejagan, Pangeranan dan keduanya berturut-turut sebesar 44,2%; 86,3%; dan 67%. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara usia dan jenis kelamin dengan kejadian osteoporosis (nilai p > 0,05). Sebagian besar responden berusia di atas 50 tahun dan mayoritas berjenis kelamin wanita. Kesimpulannya, prevalensi osteoporosis di kedua kelurahan tersebut cukup tinggi. Diperlukan upaya peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya pencegahan osteoporosis melalui edukasi dan penyuluhan mengenai gaya hidup sehat untuk mencegah osteoporosis.</em></p>2025-01-17T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional COSMIC Kedokteranhttps://prosidingcosmic.fk.uwks.ac.id/index.php/cosmic/article/view/82TINGKAT KEPUASAN PESERTA DALAM KEGIATAN PENGABDIAN MASYARAKAT “PERAN IBU TERHADAP KESEHATAN KELUARAGA BERAWAL DARI RUMAH” DI KELURAHAN KENDANGSARI SURABAYA2024-11-28T13:30:41+00:00Agda Edita Putriskanurkhamidah@uwks.ac.idTasya Alfian Rahmanurkhamidah@uwks.ac.idIda Ayu Nandi Pusparininurkhamidah@uwks.ac.idAlwiyah Alwiyahnurkhamidah@uwks.ac.idFitrah Nirmalahnurkhamidah@uwks.ac.idSalma Putrinurkhamidah@uwks.ac.idYasega Elvadanurkhamidah@uwks.ac.idMuhammad Abi Asriansyahnurkhamidah@uwks.ac.idHilmi Fikrinurkhamidah@uwks.ac.idAndikha Ardiansahnurkhamidah@uwks.ac.idNur Khamidahnurkhamidah@uwks.ac.id<p><em>Latar Belakang: Keluarga memiliki peran penting dalam menentukan konsumsi nutrisi yang ada dalam keluarga, terutama ibu. Indonesia yang memiliki budaya patriarki yang menjadikan ibu memiliki peran penting untuk kebutuhan dasar dalam rumah tangga. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memberikan edukasi pada ibu serta mengukur Tingkat kepuasan peserta dalam kegiatan pengabdian Masyarakat dengan tema peran ibu terhadap Kesehatan keluarga tentang edukasi nutrisi dan gaya hidup bersih. Metode yang dilakukan pada kegiatan ini adalah melakukan penyuluhan, kemudian data dikumpulkan secara deskriptif dengan mengukur indikator kepuasan peserta terhadap kegiatan melalui kuesioner. Jumlah peserta pada kegiatan ini berjumlah 50 orang peserta kader Kesehatan Surabaya sehat di kelurahan kendangsari. Kegiatan yang dilakukan adalah dengan memberikan edukasi tentang konsumsi umbi, Kesehatan gigi serta indikator rumah sehat. Selain itu juga dilakukan peragaan cara melakukan cuci tangan dan sikat gigi yang benar. Materi diberikan oleh dosen Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya. Setelah selesai kegiatan, kader diminta mengisi kuesioner tentang pelaksanaan kegiatan serta harapan untuk kegiatan berikutnya. Hasil dari kuesioner menunjukan bahwa Sebagian besar peserta yakni ibu kader merasa puas terhadap kegiatan yang dilaksanakan. Dari komponen penilaian antara lain pemahaman materi, kesempatan diskusi, ketepatan waktu serta sarana dan prasarana mayoritas peserta kader menilai baik kegiatan yang telah dilaksanakan. Kesimpulan: Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kegiatan pengabdian Masyarakat ini memberikan dampak positif untuk terus melakukan kegiatan serupa sebagai peran dalam melaksanakan tridharma perguruan tinggi.</em></p>2025-01-16T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional COSMIC Kedokteranhttps://prosidingcosmic.fk.uwks.ac.id/index.php/cosmic/article/view/83PENGARUH EKSTRAK KAEMPFERIA PARVILFLORA TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI ESCHERICHIA COLI2024-11-29T01:54:31+00:00I Made Bimantara Febryan Putralusianiws@uwks.ac.idLusiani Tjandralusianiws@uwks.ac.id<p><em>Kaempferia parviflora</em><em> merupakan tanaman herbal yang digunakan untuk pengobatan tradisional di Asia Tenggara. Tanaman ini dikenal bermanfaat untuk kesehatan, sebagai antiinflamasi, antioksidan, dan antimikroba. Senyawa bioaktif yang terkandung dalam Kaempferia parviflora, seperti flavonoid dan terpenoid, telah terbukti menunjukkan aktivitas antimikroba terhadap berbagai patogen, termasuk bakteri Escherichia coli. Escherichia coli adalah bakteri gram-negatif yang sering ditemukan dalam saluran pencernaan manusia dan hewan. Penyebaran bakteri ini menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan, terutama di negara-negara berkembang.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh ekstrak kaempferia parvilflora terhadap pertumbuhan bakteri escherichia coli. Metode penelitian eksperimental dengan desain post test only control group mengunakan teknik difusi rendam 24 jam.Hasil penelitian didapatkan diameter zona hambat sebesar 6,63 mm pada konsentrasi 20%, 7,75 mm pada konsentrasi 40 %,, 10,88</em> <em>mm pada konsentrasi 60 %, dan 9,5mm pada konsentrasi 80%.Pada uji One-way Anova diperoleh nilai p sebesar 0,000. Kesimpulan terdapat pengaruh ekstrak Kaempferia parviflora terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli.</em></p>2025-01-16T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2024 Prosiding Seminar Nasional COSMIC Kedokteranhttps://prosidingcosmic.fk.uwks.ac.id/index.php/cosmic/article/view/86EFEKTIVITAS TERAPI INFRAMERAH TERHADAP PENYEMBUHAN LUKA INSISI TIKUS PUTIH JANTAN2024-12-09T11:32:33+00:00Emillia Devi Dwi Riantimbak.devi@gmail.comRini Purbowatirini.purbowati@uwks.ac.idfuad Amafuad.ama@uwks.ac.id<p><em>Luka insisi adalah salah satu luka terbuka yang disebabkan oleh pisau bedah</em><em>, maka </em><em>diperlukan pengobatan yang pada umumnya menggunakan obat konvensional salah satunya antibiotik secara topikal. Obat-obatan medis dalam penggunaannya dalam jangka panjang akan berefek samping bagi tubuh maka perlunya pemanfaatan pengobatan secara artenatif seperti penggunaan terapi inframerah. </em><em>Metode, </em><em>eksperimen dengan metode rancangan acak lengkap</em><em> dan </em><em>p</em><em>opulasi penelitian tikus putih wistar jantan sebanyak 24 ekor dengan berat badan 250-300 gram, berusia 2-3 bulan. Luka insisi sepanjang 2 cm dan kedalaman 0,1 mm dan dibagi kedalam beberapa kelompok pemberian terapi, dengan kelompok kontrol dan perlakuan. analisa berdasarkan efektivitas penyembuhan luka insisi dengan menggunakan terapi inframerah dan Skor Nagaoka memiliki tiga kriteria dalam menilai penyembuhan luka. Jika waktu penyembuhan luka 14 hari didapatkan skor nagaoka 1 (lambat). Hasil, kelompok kontrol penyembuhan pada hari ke-11 dengan panjang luka 0,5 cm. Kelompok perlakuan P1 (24 cm) pada hari ke-8 dengan panjang luka 0,4 cm, P2 (16 cm) pada hari ke-7 dengan panjang luka 0,5 dan P3 (7 cm) pada hari ke-9 dengan panjang luka 0,5 cm. Skor penilaian Nagaoka, penyembuhan luka P1 : skor 2, P2: skor 2 dan P3 :skor 2.Kesimpulan, pemberian terapi inframerah sangat efektif didalam penyembuhan luka insisi tikus putih jantan dan hasil skor menunjukkan penyembuhan sedang. Penyembuhan dengan terapi inframerah tidak terjadi granulasi yang dapat menimbulkan infeksi. </em></p>2025-01-16T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional COSMIC Kedokteranhttps://prosidingcosmic.fk.uwks.ac.id/index.php/cosmic/article/view/46EXPLORING THE ROLE OF APOLIPOPROTEIN A AS A PREDICTIVE BIOMARKER FOR FECAL INCONTINENCE SEVERITY IN THE ELDERLY: A FOCUS ON LIPID-IMMUNE INTERACTIONS 2024-11-27T08:48:51+00:00Bryan Anna Wijayabryan.405210067@stu.untar.ac.idPeter Ian Limaspeterl@fk.untar.ac.idYohanes Firmansyahyohanes@fk.untar.ac.idTriyana Saritriyanas@fk.untar.ac.idAlexander Halim Santosoalexanders@fk.untar.ac.id<p><em>Fecal incontinence (FI) is a common problem among the elderly, affecting their quality of life. Identifying reliable biomarkers like Apolipoprotein A (Apo-A) could improve management strategies, as its anti-inflammatory properties may help predict the severity of FI. This study aims to assess Apo-A as a lipid biomarker for predicting the severity of fecal incontinence, using the Fecal Incontinence Severity Index (FISI) for measurement. This cross-sectional study involved 93 elderly participants at Bina Bhakti Nursing Home, who exhibited varying FI levels. The severity was evaluated using the FISI, while serum lipid profiles were analyzed to measure Apo-A levels. We assessed Apo-A’s predictive ability for FI severity through the area under the curve (AUC) from the receiver operating characteristic (ROC) curve. The state variable was set at 0 on the FISI scale, indicating the absence of FI. The AUC for Apo-A was found to be 0.631, with a p-value of 0.031, indicating that higher Apo-A levels are significantly linked to the absence of fecal incontinence. Apo-A is a promising biomarker for predicting FI severity, although its predictive capacity is limited. Future studies should investigate combining Apo-A with other inflammatory markers to enhance prediction accuracy.</em></p>2025-01-16T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional COSMIC Kedokteranhttps://prosidingcosmic.fk.uwks.ac.id/index.php/cosmic/article/view/62THE VISCERAL FAT SIGNIFICANTLY ASSOCIATED WITH URIC ACID LEVELS AMONG THE ELDERLY AT HANA NURSING HOME2024-11-24T10:20:14+00:00Ayleen Nathalie Japayleen.405210030@stu.untar.ac.idShirly Gunawanshirlyg@fk.untar.ac.idYohanes Firmansyahyohanesfirmansyah28@gmail.comAlexander Halim Santosoalexanders@fk.untar.ac.id<p><em>Visceral fat has a significant impact on metabolic health. Elevated visceral fat area could increase the risk of hyperuricemia, which may lead to further metabolic complications. The study aims to assess the relationship between uric acid levels and visceral fat accumulation and the subsequent effect on subcutaneous fat distribution in the trunk, arms, and legs among the elderly population. This study involved 61 elderly participants at Hana Nursing Home. Serum uric acid levels were measured using point-of-care testing (POCT). Body composition, including visceral and subcutaneous fat, was assessed using the Omron body composition monitor. Spearman correlation analysis evaluated the relationship between uric acid levels, visceral fat, and subcutaneous fat in different body regions, including the trunk, arms, and legs. This study has demonstrated a positive correlation between uric acid levels and visceral fat accumulation (r = 0.285, p = 0.026), subcutaneous fat in the trunk (r = 0.804, p < 0.001), arms (r = 0.752, p < 0.001), and legs (r = 0.827, p < 0.001), suggesting that having a high amount of visceral fat can be an indicator of having more subcutaneous fat as well.</em></p>2025-01-16T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional COSMIC Kedokteranhttps://prosidingcosmic.fk.uwks.ac.id/index.php/cosmic/article/view/67CORRELATION BETWEEN WAIST-HIP RATIO AND WAIST CIRCUMFERENCE AS A PREDICTOR PARAMETER IN FRAMINGHAM RISK SCORE FOR HARD CORONARY HEART DISEASE AND KIDNEY FUNCTION (CARDIO-RENAL SYNDROME)2024-11-26T16:25:34+00:00Stanislas Teguhstanislas.405210167@stu.untar.ac.idAndria Priyanaandriap@fk.untar.ac.idRonald Kartikaronaldkartika@gmail.comYohanes FirmansyahYohanesfirmansyah28@gmail.comAlexander Santosoalexanders@fk.untar.ac.id<p><em>Cardio-renal syndrome reflects the intricate link between heart and kidney health, where the dysfunction of one organ worsens the other. In coronary heart disease, the Framingham Risk Score (FRS) is a key tool for estimating the 10-year risk of myocardial infarction (MI) or death. Abdominal obesity, often measured by waist-hip ratio (WHR), has emerged as an important cardiovascular risk factor, potentially enhancing existing predictive models. This study aimed to evaluate the correlation between FRS for Hard Coronary Heart Disease and kidney function (Cardio-Renal Syndrome) and to assess WHR as a predictive parameter for FRS. This study conduct a cross-sectional study among 52 employees of Yayasan Kalam Kudus, it analyzed the correlation between FRS ("10-year risk of MI or death" and "Average 10-year risk of MI or death"), kidney function decline, waist circumference, and WHR using Spearman's correlation. Significant correlations were found between "10-year risk of MI or death" and kidney function decline (r: -0.381; p: 0.005), waist circumference (r: 0.274; p: 0.050), and WHR (r: 0.333; p: 0.016). Similarly, "Average 10-year risk" correlated with kidney function decline (r: -0.376; p: 0.006) and WHR (r: 0.291; p: 0.036). The study highlights a meaningful link between FRS, kidney function, and abdominal obesity. These findings support the inclusion of WHR and waist circumference in coronary risk assessments, particularly for populations at risk of cardio-renal syndrome.</em></p>2025-01-16T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional COSMIC Kedokteranhttps://prosidingcosmic.fk.uwks.ac.id/index.php/cosmic/article/view/68STRONGER HANDS, STRONGER BLADDERS: UNCOVERING THE CONNECTION BETWEEN HANDGRIP STRENGTH AND URINARY INCONTINENCE IN ELDERLY WOMEN2024-11-26T17:10:23+00:00Fiona Valencia Setiawanfiona.405210013@stu.untar.ac.idAndriana Kumala DewiAndrianad@fk.untar.ac.idYohanes FirmansyahYohanesfirmansyah28@gmail.comTriyana Saribluegreen25184@gmail.comAlexander Halim Santosoalexanders@fk.untar.ac.id<p><em>Urinary incontinence (UI) is a prevalent issue among elderly women, significantly impacting their quality of life. Handgrip strength, an indicator of overall muscle strength, is understudied in its role concerning UI. Utilizing handgrip strength to measure overall muscle strength, including pelvic floor muscles, introduces a novel approach to supporting continence maintenance in elderly women. The aim is to determine the correlation between handgrip strength and UI severity among elderly women, using the International Consultation on Incontinence – Short Form (ICIQ-SF) for measurement. This study involved 74 elderly female participants at Bina Bhakti Nursing Home. Spearman’s correlation was employed to analyze the relationship between handgrip strength (in kilograms), measured with the Omron Handgrip Strength device on the right hand, and UI severity was assessed through the ICIQ-SF scoring questionnaire, with scores ranging from 0 to 21. Findings indicated a statistically significant negative correlation between handgrip strength and UI severity (r = -0.245, p = 0.035). This suggests that higher handgrip strength correlates with lower UI severity. The study found a significant correlation between handgrip strength and UI in elderly women, indicating that strength-building interventions may reduce UI severity.</em></p>2025-01-16T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional COSMIC Kedokteranhttps://prosidingcosmic.fk.uwks.ac.id/index.php/cosmic/article/view/84HUBUNGAN KEJADIAN KARIES GIGI DENGAN STATUS GIZI PADA ANAK USIA 6-8 TAHUN DI SDN PUTAT JAYA I/377 SURABAYA 2024-11-29T06:17:01+00:00Luh Putu Dara Nanayantidaranana27@gmail.comTheodora Theodoratheodora@uwks.ac.idMaria Juliati Kusumaningtyastheodora@uwks.ac.idAtik Sri Wulandaritheodora@uwks.ac.id<p><em>Kesehatan secara umum terkait erat dengan kesehatan gigi. Kemampuan tubuh untuk mencerna makanan dengan baik bergantung pada fungsi gigi sebagai organ tubuh. Pertumbuhan dan status gizi pun sangat erat kaitannya. Salah satu masalah kesehatan yang paling umum terjadi pada anak-anak adalah masalah karies gigi dan status gizi mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan karies gigi dengan status gizi. Penelitian ini menggunakan desain penelitian observasional analitik, dengan pendekatan cross sectional yang merupakan suatu penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antara faktor-faktor risiko dengan efek, dengan cara pendekatan, observasional, atau pengumpulan data. Populasi pada penelitian ini seluruh anak kelas 1-2 SDN Putat Jaya I 377 Surabaya hadir saat penelitian berlangsung. Analisis data menggunakan Uji Chi Square. Hasil uji statistic dengan Chi Square menunjukkan P value sebesar 0,395 > 0,05 H0 diterima dan H1 ditolak yang artinya tidak terdapat hubungan antara status karies gigi dengan status gizi pada anak usia 6-8 tahun SDN Putat Jaya I 377 Surabaya. Tidak ada hubungan antara karies gigi dengan status gizi siswa-siswi </em></p>2025-01-16T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional COSMIC Kedokteranhttps://prosidingcosmic.fk.uwks.ac.id/index.php/cosmic/article/view/87OSTEOPOROSIS PADA WARGA KELURAHAN SINGOSARI DAN DESA KARANGKIRING (KECAMATAN KEBOMAS, GRESIK) DENGAN QUANTITATIVE ULTRASOUND2025-01-16T10:18:47+00:00Jimmy Hadi Widjajasri.lestari@uwks.ac.idSianny Suryawatisri.lestari@uwks.ac.idSri Lestari Utamisri.lestari@uwks.ac.id<p><em>Quantitative Ultrasound (QUS) merupakan alat pengukuran kepadatan massa tulang (BMD), yang mudah digunakan untuk pengukuran massal bagi deteksi dini osteoporosis. Penurunan kepadatan mineral dan massa tulang pada osteoporosis akan meningkatkan risiko patah tulang saat struktur dan kekuatan tulang berubah. Tujuan kegiatan PkM di Kelurahan Singosari dan Desa Karangkiring, Kecamatan Kebomas (Gresik) adalah </em><em>memberikan penyuluhan tentang osteoporosis, BMD, dan pengukurannya, yang hasilnya dapat digunakan untuk menganalisis prevalensinya.</em> <em>Metode kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah penyuluhan, pemeriksaan tensi, gula darah, BMD dan konsultasi dokter. Usia dan jenis kelamin sesuai dengan kartu indentitas penduduk. Nilai BMD merupakan hasil pengukuran QUS. Interpretasi osteoporosis berdasarkan nilai BMD pada skor-T. Analsis data yang dilakukan adalah deskriptif, distribusi frekuensi, uji korelasi, dan chi-square. Pevalensi osteoporosis di Kelurahan Singosari, Desa Karangkiring, dan total keduanya berturut-turut adalah 4%, 80%, dan 25,9%. Terdapat korelasi antara usia dengan nilai BMD (nilai p < 0,05), tetapi tidak ada hubungan antara jenis kelamin dengan osteoporosis (nilai p > 0,05). Penambahan usia seiring dengan penurunan kepadatan massa dan mineral tulang baik di Kelurahan Singosari, Desa Karangkiring, dan total keduanya. Perempuan dan laki-laki mempunyai risiko yang sama untuk menderita osteoporosis pada data ketiganya. Hasil prevalensi yang berbeda memerlukan penelitian lebih mendalam terkait faktor-faktor risiko yang berpengaruh terhadap osteoporosis.</em></p>2025-01-16T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional COSMIC Kedokteran